Friday, 6 January 2012

Chapter Eight


Rumah type 54 yang sudah direnovasi itu berada di sebuah kompleks perumahan sederhana. Terletak tidak jauh dari kantor Bupati, hanya sekitar 1 km. Desain aslinya hanya terdiri atas dua kamar tidur. Ruang tamu dan ruang keluarga dipisahkan dengan sekat maya berupa perbedaan luas yang cukup kentara. Sesudah direnovasi, rumah berkembang menjadi 4 kamar tidur. dua kamar tidur tambahan ditempatkan di bagian belakang dan didesain sebagai kamar anak-anak. Dipisahkan dari dapur dengan sebuah taman kecil berukuran 1 kali 2 meter. 

Oleh pemilik rumah, semua perabot bisa digunakan oleh Edo. Kecuali yang ada di kamar tidur utama dan kamar tidur anak-anak. Kamar yang ditempati Edo sebetulnya adalah Ruang praktek. Luasnya sekitar 17 meter persegi, termasuk kamar mandi. Selain akses ke ruang tamu dan ke ruang keluarga, kamar itu juga punya pintu langsung yang mengarah ke halaman depan dengan sebuah teras yang bersambung dengan teras ruang tamu. Ketika dokter itu masih tinggal di rumah itu, teras itu berfungsi sebagai ruang tunggu pasien.
Pada prinsipnya, Edo hanya menyewa satu kamar itu, tapi dengan akses yang leluasa ke bagian lain rumah, Edo merasa tempatnya sangat lapang. Apalagi karena pemilik rumah tidak berada di rumah itu. ada beberapa barang pribadinya yang ditempatkan di ruang keluarga.
Seorang pembantu rumah tangga secara teratur datang membersihkan rumah itu beserta perabot-perabotnya. Demikian pula seorang tukang kebun yang sekali seminggu bertugas merawat tanaman hias yang ada di pekarangan.
Edo memilih membiarkan bagian rumah yang lain tidak terpakai olehnya. Biar tidak saling mengganggu, katanya. Lagi pula, jika sewaktu-waktu pemilik rumah pulang, Edo tidak perlu merasa khawatir mengurangi kenyamanan mereka. Sementara ini, kebutuhan Edo sudah terpenuhi di dalam satu kamar ini.
Malam semakin larut. Sudah lebih tiga jam Edo memelototi komputernya. Tadi pagi, di kantor, 5 orang wartawan foto telah memberinya cakram berisi ratusan foto-foto kegiatan prosesi pelantikan Bupati dan Malam Lepas Sambut yang berlangsung beberapa hari lalu. semua foto yang menampilkan wajah Tenri dicopy Edo ke hard drive komputernya tanpa kecuali. Sisanya dia abaikan. Berikan saja nanti kepada petugas Humas. Selanjutnya foto itu dicrop satu demi satu, sehingga tinggal menyisakan wajah dan sosok tenri seorang diri.
Setelah tiga jam berkutat dengan software pengolah gambar, seluruh foto Tenri yang telah dicrop itu dikumpulkan dan disimpan di dalam sebuah folder khusus yang diberinya nama: TENRI. Sekali lagi, diamatinya foto itu satu demi satu, di close up, diputar, di flip dan sebagainya. Sampai seluruh sudut wajah Tenri terekam dengan sempurna di dalam benaknya.
Gadis itu memang cantik. Jika ia bilang pada Sangkala wajah gadis itu tergolong pasaran, itu juga ada benarnya. Tapi entah mengapa ia benar-benar merasa sangat tertarik. Bukan pada kecantikannya, tapi pada sesuatu yang Edo sendiri tidak mengerti. Makin lama dia pandangi, makin terasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik wajah lembut itu yang membuat Edo tidak bisa mengacuhkannya. Dan, entah ini nyata atau tidak, wajah itu terasa sangat tidak asing.
Ini bukan kali pertama Edo jatuh cinta pada seorang gadis. Ketika masih kelas tiga SMP, ia jatuh cinta pada seorang siswi kelas 1 SMA yang usianya satu tahun lebih tua. Beruntung, gadis itu membalas cintanya, walau belakangan ia tahu bahwa ternyata ia tidak mendapat balasan yang setimpal, karena gadis itu lebih menganggap cinta hanya sebagai permainan. Kelas III SMA, ia kembali jatuh cinta pada seorang mahasiswi yang belakangan ia tahu lebih menganggapnya sebagai adik dari pada kekasih.
Barulah ketika Edo berstatus mahasiswa, ia bisa menjalin hubungan yang benar-benar bisa disebutnya serius dengan seorang teman kuliahnya, yang ternyata, walaupun satu tingkat, tetapi usianya masih tetap lebih tua. Edo yang ganteng, digandrungi banyak gadis, ternyata lebih sering jatuh cinta pada wanita yang lebih tua. Banyak sudah gadis yang terpaksa gigit jari karena tidak mendapatkan respon dari Edo, hanya karena Edo merasa mereka tidak cukup memahami dirinya. Oedipus complex? Entahlah. Barangkali karena sejak kecil ia tidak punya figur ibu yang mendampinginya tumbuh dewasa. Rasa haus akan kasih sayang seorang ibu selalu menjadi pendorong utama atas hubungan dan interaksi sosial yang dilakukannya bersama orang lain, terutama terhadap perempuan.
Sekarang, untuk pertama kalinya Edo jatuh cinta pada gadis yang lebih muda darinya. Edo mencoba mencari alasan pembenaran dari perasaan aneh itu dengan mengatakan bahwa pasti karena Tenri memang orang yang pantas untuk digandrungi, pantas untuk dicintai. Bagi orang seperti Tenri, tidak dibutuhkan alasan yang logis untuk mencintainya.
Lebih seratusan foto hasil cropping itu bergerak di layar secara otomatis dalam tampilan slide show. Edo terus memandanginya sambil berbaring di tempat tidur. ia teringat perkataan Sangkala. Konon, kalau ada kemiripan antara wajah seorang pria dengan wajah seorang wanita, maka orang itu pasti berjodoh. Edo hanya tertawa menanggapi Sangkala waktu itu. Belum ada bukti ilmiah yang mendukung teori itu, sanggahnya. Tapi benarkah wajahnya mirip Tenri?
Ia amati foto-foto yang tampil dalam durasi tertentu sebelum berganti dengan gambar selanjutnya. Berbagai pose, berbagai sudut pengambilan, berbagai pencahayaan, berbagai latar belakang. Terus menerus. Lalu perlahan-lahan dia mulai mengakui bahwa memang ada kemiripan. Walau mungkin agak dipaksakan, pikirnya.
Jodoh? Edo tidak berani berpikir lebih jauh. Sudah bisa berkenalan dan bersahabat dengan gadis itu merupakan anugerah tersendiri. Lagi pula, ia kembali teringat pesan ayahnya, jika menikah di sini, maka ia tidak akan kembali berkumpul dengan ayahnya di Bandung. Ia akan punya keluarga dan punya anak di sini, yang tentu jika suatu saat dia ajak boyongan ke kampung halamannya, akan menolak dengan berbagai alasan.
 You’re the only one I ever had. Ayahnya selalu bilang begitu. Ketika Edo masih kecil, ia sering bertanya tentang ibunya. Jawaban ayahnya, ibu selalu ada di hati kita, nak. Awalnya ia tidak paham kata-kata itu. Sampai ia berusia remaja, barulah ia paham bahwa Ibunya meninggal ketika ia masih berusia empat tahun dan ayahnya, demi cintanya kepada sang istri, tak pernah berniat menggantikannya dengan perempuan manapun.
Wajah ibunya samar-samar membayang di benaknya. Melintas sebagai gambar-gambar yang buram yang silih berganti dengan cepat, berkelebat seperti masa kebersamaan mereka yang singkat. Usia empat tahun tidak cukup memberi gambar yang utuh baginya tentang wajah ibunya. Untung ada foto-foto tua yang sering ditunjukkan oleh ayahnya dulu sehingga sedikit demi sedikit, wajah ibunya terbentuk menjadi mozaik. Itulah yang selama ini terekam dalam memori Edo. Wajah seorang Ibu, yang tidak pernah dikenalnya.
Dua puluh tahun berikutnya, ia lalui bersama ayah yang tak pernah alpa hadir di sisinya. Membimbing dan membesarkannya dengan kasih sayang seorang ibu sekaligus perhatian dan perlindungan seorang ayah.
Edo merasakan matanya begitu berat. Dia padamkan lampu kamarnya, lalu mengambil posisi yang nyaman di tempat tidur. Ia biarkan komputernya bekerja, menampilkan wajah Tenri untuk menemani tidurnya hingga pagi menjelang.

No comments:

Post a Comment