Tuesday, 24 January 2012

Chapter Thirty Five


Barli sudah bisa berjalan meninggalkan tempat tidur. Selang dan botol infus diseretnya melewati koridor rumah sakit jika ia kebelet ingin keluar. Di dalam bosan katanya.

Pagi itu, ia duduk di tempat tidur setelah sarapan. Seharusnya, kalau kondisinya terus membaik seperti ini, dalam waktu dua hari ke depan ia sudah bisa meninggalkan rumah sakit.
Dua orang petugas dari kepolisian datang menemuinya, menyampaikan surat panggilan untuk diperiksa sebagai saksi. Waktunya dua hari kemudian. Tapi sebelum pulang mereka meminta waktu untuk berbincang-bincang. Katanya ini sekedar mencari informasi awal.
“Bisa anda ceritakan apa yang terjadi pada hari Selasa tanggal dua belas Maret yang lalu?”
“Saya mengantar Bapak Wakil Bupati untuk menghadiri acara di kecamatan. Tiba di sana, Pak Wakil Bupati dengan ajudan masuk ke kantor kecamatan, sementara saya menunggu di luar.”
“Apa yang kamu lakukan?”
“Tidak ada, pak. Saya hanya duduk menunggu di bawah sebuah pohon mangga. Cuaca sangat panas di dalam ruangan, jadi saya keluar.”
“Terus?”
“Biasanya kalau sudah ada tanda dari Ajudan bahwa pak Wakil Bupati sudah mau pulang, saya bersiap, menyalakan mesin mobil dan menunggu.”
“Ada yang aneh waktu Pak Wakil Bupati naik mobil?”
“Tidak ada pak.”
“Atau waktu sudah mulai jalan?”
“Juga tidak pak.”
“Kenapa kamu tiba-tiba menghentikan Mobil?
“Saya pusing, pak.”
“Apakah memang kamu biasa pusing kalau sedang mengemudi?”
“Tidak pernah, pak. Baru kali itu terjadi.”
“Sebelum berangkat kamu makan apa?”
“Biasa saja pak. Sarapan pagi di rumah. Lalu makan siang di rumah dinas Camat. Pernah minum Kopi dan air putih.”
“Setelah itu tidak makan dan minum apa-apa lagi?”
Barli ragu-ragu. Ia ingat pernah minum sesuatu di rumah gadis yang disebut sebagai jodohnya. Tapi ia malu kalau kelakuannya hampir menggagahi gadis itu diketahui oleh orang lain. “Tidak, pak.”
“Dari hasil pemeriksaan, darah dan urine kamu mengandung zat adiktif. Sudah berapa lama mengonsumsi obat-obat terlarang?”
“Tidak pernah pak. Saya tidak pernah makan begituan. Bahaya pak.”
“Tapi darah dan urine kamu mengandung narkoba.”
“Wah, Saya tidak tahu tuh, pak.”
“Jangan bohong, Barli. Jika kamu terbukti sengaja menggunakan obat-obatan, kamu bisa dihukum berat. Apalagi kalau Pak Wakil Bupati sampai mengalami hal yang buruk.”
“Tidak, pak. Saya tidak bohong. Lagipula saya tidak tahu apa itu narkoba. Bapak juga sering berpesan kepada saya agar tidak berhubungan dengan barang-barang seperti itu.”
“Jadi dari mana kamu dapat barang  seperti itu?”
“Saya tidak tahu, pak.”
“Begini, Barli. Kamu mengalami kejang-kejang saat mengemudi, itu berarti kamu mengonsumsi heroinnya beberapa saat sebelum pulang.”
“Pak polisi, saya tidak pernah  mengonsumsi narkoba.
Atau begini saja. Kamu ingat-ingat kembali apa saja yang kamu alami hari itu. nanti dalam pemeriksaan resmi kita bicara lagi.”
Kedua polisi itu pamit. Barli termenung sendiri, memikirkan kejadian hari itu. Ia berangkat dari rumah dengan perasaan sehat. Tiba di sana juga dengan perasaan yang sehat. Kenapa tiba-tiba polisi itu bilang ia mengonsumsi heroin? Barli bergidik ketika membayangkan bahwa heroin itu ia dapat di rumah gadis pujaannya. Tapi hati kecilnya mencoba membantah. Tidak mungkin. Katanya dalam hati. Ia gadis yang sangat baik.
Kejadian hampir serupa terjadi di ruang perawatan di mana Ajudan wakil bupati di rawat. Kedua polisi itu mencoba menggali informasi awal sebelum sesi oemeriksaan resmi yang akan digelar dua hari kemudian.
“Bisakah anda ceritakan apa yang terjadi pada waktu itu”
“Seperti biasa, Saya mendampingi pak wakil Bupati di acara itu. Kami makan siang di sana. Setelah acara selesai, kami bermaksud untuk pulang ke rumah dinas. Tapi dalam perjalanan, tiba-tiba mobil oleng tanpa sebab dan berhenti tiba-tiba. Kepala saya terantuk pada kaca depan karena tidak pakai sabuk pengaman,”
“Itulah pentingnya sabuk pengaman,” potong seorang polisi.
“Iya pak. Baru kali itu saya tidak mengenakannya. Saya belum sempat. Karena terantuk, saya merasa kesakitan. Tiba-tiba ada seseorang membuka pintu mobil dan menarik saya keluar lalu memukuli saya. Saya mencoba melawan tapi karena mereka berdua, saya tidak sanggup melawan.”
“Kamu kenal orang itu?”
“Tidak pak. Mereka mengenakan topeng. Wajah mereka tidak terlihat sama sekali.”
“Ada lagi kira-kira yang bisa kamu sampaikan. Sementara belum ada, pak. Saya masih shock.”
“Ok. Kita ketemu nanti.”
Polisi itu pulang.
Pada sesi pemeriksaan resmi dua hari kemudian, kedua orang itu memberikan penjelasan yang tidak berbeda dengan apa yang telah mereka sampaikan sebelumnya. Hanya saja kali ini Barli mengaku baru ingat bahwa ia minum syrop di sebuah rumah.
Barli dicecar dengan sejumlah pertanyaan mengenai rumah dan siapa yang memberinya minum. Barli terpaksa membeberkan pengalaman erotiknya bersama gadis bernama Bilqis itu dan bagaimana ia bisa berkenalan dengannya.
Sepasukan polisi langsung terbang ke lokasi untuk mengecek rumah itu. Ternyata penghuni rumahnya bukan gadis seperti yang digambarkan oleh Barli. Melainkan sepasang suami istri yang sudah berumur. Mereka hanya tinggal berdua di rumah itu, dan pada hari kejadian, mengaku menerima ajakan seseorang untuk jalan-jalan ke sebuah kabupaten tetangga. Mereka tidak mengerti untuk apa-apa jalan-jalan itu, tapi mereka menerima sejumlah uang. Saat ditanya ciri-ciri orang itu, mereka mengaku tidak ingat, karena mereka duduk di belakang sopir. Tidak sempat melihat wajah mereka.
“Lihat wajahnya?”
“Tidak, pak.”
“Kok bisa satu mobil wajahnya tidak kelihatan”
“Mereka duduk di depan, kami di belakang.”
“Jadi bapak tidak kenal mereka sama sekali?”
“Tidak pak.”
“Coba bapak ceritakan bagaimana bapak tertarik ikut sama mereka sementara bapak tidak mengenali mereka sama sekali.”
“Saya dikasih uang pak.”
“Dikasi uang, berapa?”
“Banyak sekali, pak.”
“Masih ada uangnya?”
“Masih, pak. Belum dipakai sama sekali. Rencananya mau ditabung di bank.”
“Boleh saya lihat uangnya?”
“Boleh, boleh. Pak. Tapi tolong jangan dijadikan barang bukti, ya?”
“Kok bapak tahu uang bisa jadi barang bukti?”
“Di televisi, pak.”
Istri laki-laki tua itu mengambil uang yang mereka maksud. Dia keluar dengan membawa lima lembar uang  pecahan seratus ribu di tangannya.
“Pak uang ini saya bawa, tapi saya ganti dengan ini, katanya sambil merogoh dompetnya dan menyerahkan uang yang jumlahnya persis dengan uang mereka itu.
Kompol Baso memasukkan uang itu ke dalam sebuah kantong lalu melanjutkan pertanyaan kepada kedua orang tua itu.
“Jadi bapak tidak tahu kalau ada seorang gadis yang  tinggal di rumah ini pada hari itu?”
“Tidak pak.”
“Memangnya waktu bapak pergi pintunya dikunci atau tidak.”
“Dikunci, pak.”
“Ada orang lain yang pegang kuncinya.”
“Tidak ada, pak. Kami hanya tinggal berdua.”
“Waktu bapak pulang, adakah barang yang hilang?”
“Tidak ada, pak. Aman 100%.”
“Seperti tidak pernah terjadi apa-apa?”
“Betul, pak.”
Kompol Baso memerintahkan anak buahnya melakukan pemeriksaan, siapa tahu ada sesuatu yang tertinggal di rumah itu yang bisa dijadikan petunjuk. Namun tidak ada jejak apapun yang tersisa. Mungkin karena waktunya sudah terlalu lama. Pikir Kompol Baso. Mereka pulang meninggalkan tempat itu.
Di kantor, mereka meminta Barli menjelaskan ciri-ciri wajah gadis itu. Sketsa wajah sang gadis diyang memberinya minum syrop, yang diduga telah dicampur dengan heroin untuk mengganggu kesadaran Barli sehingga rencana perampokan itu berjalan dengan sukses.
Sketsa wajah gadis itu disebar ke seluruh wilayah negeri ini. Mulai ke seluruh jajaran kepolisian, hingga kepada semua petugas bandara dan pelabuhan. Tidak ada jalan keluar baginya dengan wajah yang sementara ia gunakan. Kecuali jika dalam dua hari terakhir ini ia telah berganti wajah. Barli tahu, gadis itu pasti tertangkap, karena sketsa wajahnya sangat mirip. Hanya persoalan waktu sebelum ia tertangkap. 

No comments:

Post a Comment