Thursday, 19 January 2012

Chapter Twenty One


Meskipun tidak sepenuhnya yakin, tapi Tenri mulai bisa menyatakan bahwa  keputusannya untuk tetap tinggal di daerah ini adalah karena Edo. Ia suka pemuda itu. cinta? Not yet. Itu masih harus diuji dengan berbagai instrumen sebelum sampai pada kesimpulan itu. Lagipula,  konsepnya tentang cinta masih terlalu prematur untuk menjadi alasan perubahan keinginan yang drastis itu.

Edo menawan hatinya. Tapi bukan karena alasan-alasan yang bersifat fisik. Ia cuma selalu merasa ingin dekat dengan pemuda itu. Karena sesuatu alasan yang tidak bisa dia jelaskan. Edo ganteng, tinggi dan atletis, itu relatif. Edo cerdas dan hebat main tennis. Itu juga bukan sesuatu yang istimewa.
Tenri cuma merasa, setiap kali bersama Edo, ada perasaan senang dan bahagia yang meliputi hatinya. Semacam rasa nyaman ketika berteduh di bawah pohon yang rindang di kala matahari bersinar begitu terik. Senang ketika berada di sana tapi tidak pernah sekalipun berniat untuk tinggal. Tenri tertawa geli dengan perumpamaan yang dibuatnya sendiri. Tapi seperti itulah yang dia rasakan tentang Edo.
Memiliki cinta, apalagi dengan tingkat keseriusan yang tinggi lalu berpikir hingga ke jenjang pernikahan adalah sesuatu yang masih terlalu dini buatnya. Let it flows. Biarkan saja mengalir hingga suatu saat tiba di muaranya.
Berteduhlah saja, ketika kenyamanan itu masih kau rasakan. Suatu saat rasa itu akan berakhir dan itulah saatnya kau harus pergi. Sebenarnya Tenri tahu kalau Edo mencintainya. Cara Edo berbicara, cara Edo memandangnya, dan cara Edo memperlakukannya, sudah cukup menjadi jawaban. Ia memang tidak pernah memberikan kesempatan kepada Edo untuk mengungkapkan perasaan itu secara verbal, karena khawatir ia tidak bisa memberi jawaban yang tepat.
Selain main tennis dan makan bersama, Tenri juga makin sering mengunjungi Edo di kantor. Menemaninya bekerja atau sekedar mengganggunya. Tidak ada orang yang berani memprotes. Jika sesekali Edo mengeluh karena merasa terganggu, Tenri akan mengeluarkan ancaman yang menjadi senjata pamungkasnya, kembali ke Makassar dan berangkat ke Australia. Maka Edopun buru-buru meralat ucapannya.
Tenri tak sungkan menggandeng tangan Edo berjalan di halaman kantor. Mengabaikan tatapan iri gadis-gadis lain yang naksir sama Edo. 

No comments:

Post a Comment