Monday, 30 January 2012

Chapter Fourty Four


Pesawat yang membawa Edo dari Jakarta tiba di Changi International Airport tepat pukul 11.35 Waktu Singapura. Saat pintu pesawa dibuka, Edo bergegas meninggalkan tempat duduknya dan menerobos kerumunan penumpang di lorong tengah. Beberapa orang sempat terdorong sehingga menyumpahi Edo. Edo tidak peduli. Pesan dari Tenri sangat jelas baginya. Datanglah, secepat yang kamu bisa.

Di depan terminal 1, ia segera mengikuti petunjuk arah yang ada untuk mendapatkan taxi. Dari sana ia minta diantar ke Bugis Junction. Seorang kenalan ayahnya memberi petunjuk melalui pesan singkat bagaimana ia bisa tiba di rumah sakit itu.
Raffless Hospital Singapura berdiri megah dengan bangunan setinggi 14 lantai yang menempati satu blok kota di 390 Victoria Street. Ia segera memasuki gedung itu dan menemukan meja resepsionis di lobby. Dengan data pasien yang sudah dia kantongi ia diberi petunju oleh petugas menuju ruang perawatan dimana Tenri berada.
Edo termangu di pintu masuk. Matanya lekat memandangi tempat tidur di mana Tenri terbaring. Edo seperti melihat seseorang yang sangat berbeda. Dalam sakitnya selama lima hari ini, wajah ceria gadis itu telah sirna, berganti wajah kuyu pucat pasi tanpa sinar kehidupan. Bibirnya  biru kehitaman. Sekeliling matanya juga menghitam dan berubah cekung.
Edo mendekat. Mengambil kursi lalu duduk di sisi tempat tidur. Ia terus mengamati wajah gadis itu dan mencoba mencari kecantikan dan keceriaan yang tersisa darinya. Ia gagal. Bahkan beberapa helai rambut Tenri tampak kelabu, seperti uban. Lewat bedside monitor, Edo mencoba mengamati denyut nadi, tekanan darah dan suhu tubuh Tenri. Pengalaman sering diikutkan oleh ayahnya ke tempat praktek membuatnya sedikit tahu tentang maksud angka-angka itu. Diraihnya tangan Tenri yang dingin lalu digenggamnya dengan lembut.
“Tenri... aku datang.” Bisiknya di dekat telinga Tenri.
Gadis itu tetap diam tak bergerak. Tidak, ia bergerak sedikit. Tangannya yang digenggam Edo bergerak. Edo mempererat genggaman tangannya. Mencoba mengalirkan kehangatan lewat jemarinya. Menurut Nurani yang ditemuinya di luar ruang perawatan tadi, Tenri sudah siuman sejak dua hari lalu. Tapi ia lebih banyak tidur.
“Tenri...” Bisik Edo lagi.
Gadis itu membuka matanya. Pandangannya bertemu dengan pandangan Edo. Sekilas binar ceria berpendar dari sepasang mata itu. Edo bisa melihatnya. Ia tersenyum dan membawa tangan gadis itu ke bibirnya lalu dikecupnya dengan lembut.
“Edo..., kamu datang sayang?” Katanya, terbata-bata. Matanya yang tadi berbinar sekarang berkaca-kaca dipenuhi air mata. Edo mengusap air mata Tenri dengan lembut.
“Begitu menerima pesanmu, aku segera berangkat.”
“Kenapa lama sekali?”
“Aku harus menunggu penerbangan langsung yang available.”
Tenri tersenyum. Ia mengangguk mengerti.
“Aku senang sekali kamu mau datang.”
“Aku juga senang bisa ketemu kamu lagi.”
“Nanti uang tiketnya minta sama ayahku, ya.”
“Ssstt. Kamu tidak usah pikirkan itu.” Edo menaruh telunjuk di bibirnya. “Pokoknya, sekarang aku ada di sini.”
Ia menarik napas panjang dengan susah payah. Ia eratkan pegangan tangannya pada tangan Edo sekuat tenaganya. Sepertinya ia sudah tidak mampu melanjutkan bincang-bincangnya dengan Edo.
“Istirahatlah. Aku akan ada di sini, di sampingmu.” Kata Edo. Sambil berdiri dan mengecup kening Tenri. Gadis itu mengangguk. Mereka terus berpegangan tangan sampai Tenri kembali tertidur. Edo menatap wajah itu sesaat lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
Imran merangkul Edo dengan erat. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih karena pesan Tenri yang meminta Edo datang dipenuhi dengan segera. Imran lalu bercerita bahwa tim dokter yang menangani Tenri tidak bisa memberikan diagnosis yang tepat atas penyakit yang diderita Tenri. Sehingga yang bisa mereka lakukan hanya menjaga agar Tenri dapat bertahan selama mungkin.
Edo sempat berkenalan dengan beberapa saudara Imran. Bisnu juga ada di situ dan langsung membuka medan perang dingin. Edo mencoba memahami perasaan pemuda itu dan tidak terlalu memberikan respon. Ia datang ke sini karena Tenri yang memanggilnya, dan itu lebih dari cukup. Apalagi Imran sendiri menerimanya dengan baik. Lagipula, jika direnungkan lebih dalam, Tenri adalah orang yang sebaiknya mendapatkan seluruh perhatian dan konsentrasinya, bukan Bisnu.

No comments:

Post a comment