Monday, 30 January 2012

chapter Thirty Eight


Barli dan ajudan Wakil Bupati sudah tuntas menjalani pemeriksaan Polisi. Dari mereka berdua, polisi tidak bisa menerima banyak informasi yang berharga untuk mendukung penyidikan lebih lanjut. Namun seiring dengan membaiknya kesehatan salah seorang pelaku, berkat pemeriksaan intensif yang dilakukan penyidik terhadap pria yang berhasil dilukai oleh Sufri, polisi berhasil menemukan fakta bahwa kejadian itu merupakan skenario pembunuhan berencana terhadap Sufri.
Perampokan itu hanya semacam kedok. Tapi ia tidak tahu siapa orang yang menyuruhnya. Yang dia tahu, Bram, pemimpinnya mendapatkan order pembunuhan itu dari seseorang melalui sms. Ia hanya kebagian tugas sebagai pembantu yang disewa oleh Bram dan dijanjikan akan mendapat upah lima belas juta rupiah. Ia menjelaskan ciri-ciri wajah  Bram kepada penyidik untuk dibuatkan gambar sketsa wajah.
Bilkis tertangkap di ujung selatan Sulawesi Selatan ketika akan menyeberang ke Selayar. Seorang petugas pelabuhan mengenalinya dan langsung mengontak petugas kepolisian setempat. Dia sempat naik ke kapal feri yang akan menyeberangkannya. Dia sempat membantah ketika akan dibawa ke kantor polisi lewat sebuah motor boat yang menyergap feri itu. Gadis yang sebenarnya bernama Masayu itu adalah seorang PSK yang disewa oleh Bram untuk menyamar sebagai penduduk kecamatan dan menjebak Barli lalu meracuninya dengan narkoba. Ia menjelaskan ciri-ciri wajah Bram kepada penyidik untuk dibuatkan gambar sketsa wajah.
Seorang Petugas SPBU melapor bahwa ia pernah menemukan catatan yang tercecer dari seorang pengemudi mobil yang angkanya menunjukkan peristiwa perampokan itu. berdasarkan laporan petugas SPBU tersebut, Polisi menduga bahwa ada keterkaitan yang erat antara peristiwa perampokan itu dengan catatan yang ditemukan pelapor. Petugas SPBU itu kemudian menjelaskan ciri-ciri wajah Bram kepada penyidik untuk dibuatkan gambar sketsa wajah.
Ketiga gambar sketsa wajah itu dibandingkan satu sama lain dan akhirnya mereka menyimpulkan bahwa Bram yang dikenal oleh salah seorang pelaku, Masayu dan sang petugas SPBU adalah orang yang sama. Hal itu semakin memperkuat keyakinan polisi bahwa Bram adalah pemimpin usaha perampokan itu.
Gambar sketsa wajah Bram disebar ke seluruh pelosok negeri dan namanya dimasukkan dalam DPO. Sketsa wajahnya ditempel di mana-mana dan bisa diunduh dari situs kepolisian negeri ini. Intel polisi disebar, petugas berpakaian preman terus menerus mengendus jejak Bram dari berbagai informasi yang bisa mereka dapatkan.
Usaha tidak kenal lelah itu akhirnya membuahkan hasil. Beberapa hari kemudian, Bram tertangkap di rumah salah seorang istrinya di pedalaman Parigi Moutong Sulawesi Tengah. Ia bersembunyi di sebuah rumah kebun yang letaknya jauh di tengah hutan.
Informasi domisili Bram muncul ketika seorang pedagang barang kebutuhan sehari-hari di Pasar Parigi, mengenali Bram sebagai seeorang yang membeli banyak bahan makanan. Katanya untuk persiapan satu tahun, katanya. Ketika melihat sketsa wajah Bram. Ia langsung melapor ke polsek setempat dan menyebutkan bahwa orang ini pernah berbelanja di tokonya.
Konsentrasi pencarian langsung diarahkan ke Kabupaten Parigi Moutong. Gambar Sketsa wajah Bram berkibar di mana-mana. Setiap orang bisa melihatnya terpampang di papan-papan pengumuman, koran-koran lokal dan lewat publikasi polisi sendiri. Akhirnya seorang tukang ojek menjelaskan bahwa ia pernah mengantar orang dengan wajah seperti yang ada dalam sketsa itu ke sebuah tempat di kecamatan Parigi Tengah.
Dari Ibu kota Kecamatan Parigi Tengah, Polisi diarahkan ke Desa Matolele oleh seorang imam, karena ia pernah menikahkan orang yang wajahnya seperti dalam gambar sketsa wajah itu dua tahun lalu di Desa Matolele.
Untuk menemukan rumah Bram di Desa Matolele, polisi membutuhkan waktu lebih dari dua hari. Luas daerah dengan topografi yang bergunung-gunung membuat proses pengejaran sedikit tersendat. Akhirnya, setelah dikepung selama dua jam, tanda-tanda keberadaan Bram di tempat itu dikonfirmasi kebenarannya.
Personil polisi dari daerah yang bekerja sama dengan petugas setempat berhasil meringkus Bram ketika sedang makan malam di rumahnya bersama istri dan seorang anaknya yang masih balita. Istrinya menangis histeris ketika ia dibawa dengan paksa. Katanya suaminya hanya seorang petani yang membuka kebun kakao di tempat itu, tidak mungkin terlibat kejahatan di Sulawesi Selatan. Tapi polisi tidak peduli dan berjanji akan mengembalikan Bram ke rumah itu jika ia tidak terbukti bersalah.
Bram diangkut lewat udara dari Bandara Mutiara Palu ke Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Selanjutnya dari sana dia diangkut lewat darat ke daerah ini. Setelah melalui perjalanan melelahkan selama lebih kurang dua belas jam, akhirnya Bram tiba dan lansung dijebloskan ke dalam sel tahan Polres.
Dalam pemeriksaan polisi, ia menyebut nama teman-temannya beserta kemungkinan tempat domisili dan keberadaannya. Dengan data dari Bram, polisi segera melakukan menuju ke titik yang disebutkannya dan mendapati keempat pelaku. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, lima orang rekannya yang lain juga tertangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan.
Kapolres menggelar jumpa pers untuk mengumumkan hasil kerjanya. Di Aula Mapolres, Kapolres didampingi Kompol Baso menjelaskan kepada para wartawan bahwa terhitung mulai kemarin sore, seluruh pelaku perampokan, termasuk yang terlibat sebagai pembantu-pembantunya, telah tertangkap dan sementara berada di dalam sel tahanan Polres. Satu orang di antaranya masih dirawat di Rumah Sakit tetapi berada di bawah pengawasan.
Pemeriksaan secara marathon akan dilaksanakan terhadap seluruh tersangka pelaku mulai hari ini dan seterusnya. Oleh karena itu, dalam waktu yang tidak terlalu lama, para pelaku bisa diberkaskan dan dilimpahkan ke kejaksaan negeri. Kompol Baso sempat ditanyai mengenai upayanya menangkap para pelaku yang dijawabnya bahwa semua itu karena jaringan kepolisian negara telah memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan polisi di negara-negara maju. Jadi percayakan urusanmu kepada polisi, polisi akan membantu.
Bram adalah seorang mantan prajurit berpangkat rendah. Pernah bertugas di sebuah kesatuan yang bermarkas di Srondol Semarang. Karena desersi dan melakukan berbagai bentuk pelanggaran disiplin selama bertugas ia dipecat dan dihukum di rumah tahanan militer selama beberapa tahun. Usai menjalani hukuman dan bebas, ia menjelma menjadi pembunuh bayaran. Menikah dengan dua orang peempuan, terakhir ia menikah dengan seorang perempuan di Kabupaten Parigi Moutong.
Hasil pemeriksaan terhadap komplotan Bram membuka fakta baru terhadap kasus itu. ternyata, berdasarkan pengakuan Bram, sebagai satu-satunya orang yang menerima order, bahwa perampokan itu hanya sekedar kedok. Maksud sesungguhnya adalah membunuh Sufri. Pengakuan Bram itu cukup mengejutkan, walaupun sebelumnya sudah pernah diperkirakan.
Bram menerima order itu dari seseorang yang menghubunginya lewat telpon dan pesan singkat. Ia tidak pernah bertemu dengan pemberi order. Ia jugalah yang menjadi otak skenario percobaan pembunuhan berkedok perampokan itu.
Ia meminta waktu untuk mempelajari situasi dan kemungkinan waktu terbaik untuk melakukan aksinya selama lebih kurang satu bulan. Selama itu ia menugaskan orang-orang kepercayaannya untuk memantau pergerakan dan kegiatan sehari-hari calon korbannya. Pemberi order menyanggupi mencari akses untuk mengetahui jadwal kegiatan calon korban. Foto-foto Sufri, Ajudan dan Barli beserta profilnya digandakan agar anggota komplotan itu bisa melakukan aksinya dengan tepat. Setelah merasa yakin mampu melakukan tugas itu, iapun menyatakan kesanggupan.
Ia menuntut upah seratus juta rupiah sebagai harga atas nyawa Sufri. Orang yang memberinya order memberi panjar melalui sebuah toko swalayan yang meletakkan uang di bawah sebuah rak minuman ringan beserta pesan dan perkiraan waktu yang tepat untuk pelaksanaan rencana itu. ia lalu mengontak lima orang temannya untuk membantu sebagai petugas lapangan.
Di samping itu, ia juga merekrut seorang PSK bernama Masayu yang ditempatkan di lokasi untuk meracuni Barli. Seorang lagi dari anggotanya dia tugaskan untuk membawa pemilik rumah berjalan-jalan sepanjang hari agar si gadis yang menyamar sebagai Bilkis leluasa menggunakan rumah itu sebagai rumahnya.
Pada hari yang ditentukan, mereka bersiap di lokasi. Masayu yang bertugas menjebak Barli tidak menemukan banyak kesulitan, karena ternyata pemuda itu justru membawa dirinya ke dalam pelukan Masayu. Jika keadaannya tidak seperti itu, Masayu sudah menyiapkan jurus lain agar bisa menjerat Barli dan meracuninya.
Dengan takaran dan dosis yang tepat, sesuai dengan perkiraan selesainya acara di Kecamatan, Masayu sukses menjalankan aksinya dan membuat Barli tidak mampu melaksanakan tugas dengan baik lima belas menit setelah mobilnya berjalan. Saat itulah, dengan mengendarai sepeda motor, Bram bersama lima orang rekannya yang lain menyergap mobil dinas itu dan melakukan usaha pembunuhan yang diakhiri dengan perampokan. Seluruh barang berharga, termasuk telpon genggam mereka gasak, sekedar untuk menyamarkan perbuatan mereka yang sesungguhnya.
Sayangnya, ada satu hal yang tidak mereka perhitungkan, Sufri, sang wakil bupati yang berperawakan kecil ternyata bernyali sebesar gajah, tidak ingin berdiam diri dan membiarkan dirinya dikerjai. Dengan sebilah obeng yang diambilnya dari kantong jok mobil, ia berhasil menikam dada salah seorang pelaku hingga sekarat.
Komplotan bra, memang berhasil melukai Sufri sangat parah, sehingga peluangnya untuk hidup sangat tipis. Sekali lagi rekannya yang memeriksa Sufri melakukan kesalahan. Sufri yang sudah tidak bergerak dan terkapar di tanah disebutkannya sudah tewas. Meskipun kehilangan salah seorang rekannya, ia puas. Misinya berhasil dijalankan. Bayangan uang seratus juta sudah terpapmpang di depan patanya. Namun peristiwa yang diliput berbagai media itu membuatnya tersadar, bahwa uang itu gagal menjadi miliknya.
Polisi kemudian mengarahkan penyelidikan kepada orang yang memberi order kepada Bram. Dari berbagai nomor yang dipakai menghubungi Bram, polisi mengetahui bahwa pemilik nomor berdomisili di daerah ini.Polisi mencoba menghubungi nomor-nomor itu, tetapi sudah tidak ada yang terpakai. Nomor-nomor telepon sekali pakai itu tidak terdaftar dengan baik karena proses registrasi hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Data apapun yang dilaporkan bisa diterima.
Polisi tidak kehilangan akal. Seluruh counter telpon genggam yang mendistribusikan nomor GSM dimintai keterangan mengenai penjualan nomor-nomor tertentu yang berlangsung dalam dua bulan terakhir. Tidak semua bisa memberikan keterangan. Tapi ada juga beberapa yang kemudian mengidentifikasi pembeli nomor-nomor itu sebagai seorang pria paruh baya dengan postur sedang.

No comments:

Post a Comment